Period Episodes

Ollo!

Ketika masih berstatus sebagai calon sarjana, ada satu momen yang cukup membuatku kaget. Untuk sebagian perempuan mungkin dari awal sudah terbiasa dengan hal itu, tapi, bagi aku yang awalnya tidak ada masalah dan lancar jaya laiknya kondisi jalan di Jakarta menjelang sholat ied, hal ini cukup aneh. Apalagi ketika masih terjadi di periode-periode berikutnya.

Aku masih ingat jelas saat itu aku yang lagi sumilangeun a.k.a menstrual cramp, Wardah, dan Farah sedang berada di sekretariat OPMAWA BK.  FYI, aku pakai rok batik biru lho... Tak penting juga sih info ini karena tak ada hubungannya dengan apa yang akan kuceritakan. Hanya ingin kamu tahu kalau aku juga kadang pakai rok. :)) Sebagai mahasiswi pertengahan masa kuliah, lagi masa-masa jam kosong atau pulang kuliah siang mainnya di sekret... untuk ngerumpi katarsis.

Lagi menikmati ademnya sekret, tiba-tiba badanku greges-greges. Punggung dan telapak tangan+kaki jadi dingin. Keringat dingin ikut-ikutan muncul. Fisik yang tadinya bertenaga normal, berubah jadi lemas seketika.
"Something is not right," pikirku.
Aku minta tolong Wardah dan Farah buat menemani (baca: mengantar) ke kost yang (untungnya) hanya 5 menit jalan kaki dari sekret. Sepanjang jalan, kondisiku makin parah karena ditambah mual. Jarak yang sebenarnya sungguh singkat itu terasa sangat jauh dan cukup menyiksa. Worst case scenario mulai hinggap di pikiran. Gimana kalau aku ga kuat jalan? Gimana kalau aku pingsan? Gimana... Gimana...

Berhasil selamat sampai kost, Mi?

BERHASIL... Setelah muntah sedikit di selokan depan kost! Iya, aku tak kuat nahan mual. Sampai di kost, langsung masuk kamar mandi untuk lanjut muntah lagi. Hahahaha. Enggak, aku bukan sakit. Kalau sakit, seharusnya aku masih tepar paska mengeluarkan isi perut. Lah aku malah kembali normal. Aneh emang.

Sempat berpikir mungkin kondisi kesehatan menurun, kecapean, atau keracunan makanan. Tapi kok terjadi lagi setiap H-1 atau hari pertama shark week?! Setelah aku analisis, aku baru sadar kalau gejala yang aku rasakan adalah menstrual alarmku...dan ternyata ada juga orang-orang di luar sana yang mengalami alarm sepertiku, bahkan ada yang sampai tidak bisa beraktivitas di hari pertama menstruasi, jadi, dengan sengaja izin sekolah/kerja.

Aku tidak seekstrem itu sih, fase kumatnya hanya sebentar sebelum kembali bisa beraktivitas normal kembali. Tapi ya random aja gitu munculnya, belum bisa aku prediksi kapan tepatnya alarm ini 'bunyi'. Agak mengkhawatirkan sih ini... Tak lucu lagi aktivitas di tempat banyak orang atau sedang melakukan hal serius tiba-tiba kumat. Kalau ada teman masih mending, seenggaknya ada yang bisa aku repotin. Kalau tak ada yang aku kenal? >.<

Untuk jaga-jaga biar tetap alert, aku install aplikasi period tracker. Aku cukup rajin input "jatah bulanan" aku sampai terbentuk cyclenya. Menurutku aplikasi ini sangat membantu aku untuk tahu prediksi haid berikutnya. Jadi, ketika ada aktivitas di luar rumah menjelang hari H aku sudah prepare perlengkapan "tempur", termasuk minyak kayu putih, jaket, dan kantong plastik. Membiasakan diri juga untuk olahraga ringan karena bisa mengurangi rasa sakit menstrual cramp. Aku tak mau "memanjakan" diri dengan minuman datang bulan atau jamu-jamuan, tapi, kalau memang emergency banget aku beli kok. Seingatku selama ini hanya sekali, itupun ketika lagi sama pasangan (duluuuu) dan dia clueless harus bagaimana.

"Drama" menstruasi sudah aman? Hohoho. Tidak semudah itu, Fulgoso! Ini pengalaman period episodes in public yang tak akan pernah aku lupakan:

Pastinya ketika pertama kali mengalami alarm yang aku ceritakan di atas.

Kedua adalah pingsan di commuter line ketika mau berangkat ke kampus dari rumah untuk menyemangati sobiku sidang. Aku yang sangaaaaat jarang pilih gerbong wanita saat itu entah kenapa pilih di sana dan berdiri depan priority seat, bersandar di dinding. Mungkin Period: Day 1 membuat naluri wanitaku memilih untuk bersama yang sejenis.

Lagi menikmati pemandangan di dalam dan di luar beserta mixing deru kereta dan obrolan yang mau-tak-mau terdengar olehku karena lupa pakai earphone, alarm 'bunyi'. Okay. Tubuh mulai greges-greges, kliyengan, dan berkeringat dingin. Tangan makin kencang pegang besi di atas kursi. Aku coba atur napas, arahkan pandangan agar fokus ke 1 titik, dan ikuti saran Tinkerbell: think happy thoughts.

Ngaruh? ENGGAK. Kontrol pikiranku belum sehebat itu sampai bisa memikirkan yang indah-indah saat berada dalam kondisi 'kambuh' di kereta dan tak ada satupun orang yang kukenal. Pikiran-pikiran yang muncul tak jauh dari negative what ifs. "Gimana kalau muntah di kereta? Gimana kalau pingsan? Gimana kalau saking helplessnya jadi nangis? Malu banget gilaaaa..." Lucky me, saat itu rasa mual tak ikut hadir...and unlucky me, yang hadir malah blackout.

Yup! Setelah mencoba meyakinkan diri untuk baik-baik saja, setidaknya sampai di tempat yang familiar dan aman dulu deh, badan malah semakin ringan seperti disconnected dengan lantai kereta. Suara-suara dari luar semakin samar terdengar, berbanding terbalik dengan suara dalam pikiran yang semakin jelas memberi peringatan sensasi ini sama dengan apa yang aku alami saat upacara di SMP. Yaaaa masa harus pingsan sih?! Aku coba gerak-gerakin jari kaki, tangan, dan badan agar kesadaran tetap bersamaku, tidak seperti kamu yang pergi meninggalkanku.

Aku berharap menghadap ke jendela yang sedikit terbuka bisa menambah kadar oksigen di otak. Useless, saudara-saudara! Pandangan malah gelap sepersekian detik. Akhirnya aku memutuskan untuk jongkok, siapa tahu hanya butuh istirahat sejenak. Ternyata jongkok jadi trigger kesadaran menghilang. Hahahahaha. Buka mata aku sudah duduk di kursi, kerudung sudah dibuka jarumnya, dan perempuan di depanku ada ngipas-ngipasin aku. Ibu-ibu di sebelah kasih air mineral gelas dan multivitamin setelah tanya kondisiku. I thanked them walau malu setengah mati karena merepotkan strangers.
But that moment, my faith in gerbong wanita-humanity restored.
Pengalaman ketiga yang tak akan kulupakan bisa dibilang fresh from the oven. Baru terjadi 3 Maret 2019. Seperti yang aku bilang, aku bisa prediksi kapan bulan datang lagi, tapi, tidak dengan sumilangeun++nya. Kemarin aku niat datang ke acara Wildlife Crime Talk-nya WWF di Kaskus Playground. Hari pertama mens tak jadi masalah untukku karena terakhir kali tepar itu Mei 2018 (yeah, ada faktor lain sih kalau ini) dan setelahnya lancar, hanya cramp biasa. Cukup lama terbiasa normal, aku lupa alarm seperti mantan yang muncul tiba-tiba dan biasanya di waktu yang tidak tepat.

Selama di kereta yang entah kenapa dingin abnormal padahal cukup penuh, aku baik-baik aja. Kedinginan sedikit karena lupa bawa jaket (sangat di luar kebiasaanku), tapi, tak ada masalah. Ketika lagi nunggu mobil di dekat stasiun sambil ngobrol sama OmBunq, bunyi lagi dong menstrual alarm iniii... Menit-menit menjelang sampai Palma, badan mulai ringan dan pandangan blur. Aku nyeletuk ke Aul n Aul "kayanya akan pingsan deh."

 Beneran pingsan (lagi), Mi? Tentu tidak~

Keluar mobil aku langsung duduk di tangga lobi Palma. Ingat di kartun-kartun kalau nabrak atau tertimpa sesuatu ada burung/bintang berputar di kepalanya? Nah, kurang lebih itu yang aku rasakan kalau mata terbuka. Cukup lama duduk di situ sampai tak enak karena membuat mereka tak mau ke atas duluan. Huhuhu. Aul n Aul nawarin untuk nemenin di musholla basement, tapi, dari lobi ke sana aja cukup jauh. Aku juga lebih milih untuk 'menyelesaikan' fase ini dulu sebelum benar-benar kembali beraktivitas. Meeeennn... Jalan dengan baik dan benar itu butuh energi yang cukup besar. Tak mau maksain tetap ke playground atau ke musholla dengan risiko di tengah jalan muntah atau makin lemas. >.<

Beberapa saat kemudian, Iqbal nyamperin kami. Kantong goodie bag Kaskus stand by di tangan, jaga-jaga kalau mual sudah memuncak. Padahal kantong itu mau aku pakai buat belanja sepulang dari acara, tapi, aku lupa bawa plastik (pintaaarrr!). Aul n Aul jalan ke atas duluan. Fenrirlens dan OmBunq yang masih nemenin di lobi sampai akhirnya berhasil mengeluarkan isi perut beraroma VCO dan cairan "kuah soto" (ngutip istilah Iqbal). WOOHOOOOO!!! Ada gitu ya orang muntah  malah senang. Setelah kumpulin tenaga beberapa menit karena bagaimanapun juga muntah itu melelahkan, dengan ceria aku ngajak OmBunq dan Iqbal ke venue acara.

Well, di dalam lift masih jongkok sih karena masih agak lemas, tapi, sesampainya di lantai 10 kondisi sudah kembali normal. TanDey yang memang super baik bikin aku terharu pula! Dia 'mengorbankan' tempat duduknya untukku bahkan sampai ngambilin minum dan, since she knows I don't eat macrocarbs, puding cokelat (cheating juga sih ini). Bahkan sampai nemenin ke toilet biar jaga-jaga kalau aku masih error. In the end TanDey tahu juga faktor X yang bikin aku fast recovered. :))

Pernah juga di kantor dulu lagi makan es krim hadiah dari analis untuk para PA dan kumat gitu aja. Bayangin dong lagi enak-enaknya makan es krim, terus ujug-ujug mual. Langsung ke toilet yang sialnya kedua stall saat itu terisi! Tak bisa menahan, akupun mempermalukan diriku dengan membuat salah satu wastafel penuh dengan makanan yang sebelumnya kumakan. HAHAHAHAHAHA ANAK BARU UDAH MALU-MALUIN, MI! T.T

Aku sampai berkali-kali minta maaf pada janitor yang bertugas saat itu. Mau aku yang bersihkan, tapi, tak diizinkan. Huhuhu. Cukup lama memulihkan diri di toilet ditemani Anisya yang super sabar dan mau-mauan menemani aku padahal di jam kerja. Aaaah... Aku terharu. :')
I am blessed. Thank you is never enough to express my gratitude toward them. I don't know how to repay their kindness and sincerity. All I can do now is trying my best to be there for them whenever they need me.
But... Thank you.

Salam,
M

Komentar

  1. Yang seru : adalah pingsan di commuter line ketika mau berangkat ke kampus ...hamdallah siuman dg rasa malu=aman hehehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Menurutmu gimana? :)

Postingan Populer