Love Loyal Leo

Dear Leo,

Jika ada yang bertanya apakah aku bahagia setelah hampir 3 bulan berpisah dari kamu, aku tak ragu menjawab "YA! Aku bahagia." Banyak kegiatan yang bisa kulakukan. Banyak hal yang bisa kudapatkan. Tentunya ketika bersama kamu, aku tak seterbuka sekarang dalam menyambut kesempatan yang datang.

Kita berdua tahu orangtuaku mengizinkanku menjadi manusia produktif di manapun aku mau, kecuali daerah konflik. Senangnya aku, saat ini cukup memikirkan diriku sendiri, tanpa perlu lagi menimbang perasaanmu dan hubungan kita ketika datang peluang untukku.

Kita berdua tahu betapa peduli dan fokusnya kamu ketika mengurus organisasi dan komunitasmu. Aku kadang cemburu pada mereka yang seringkali lebih kamu utamakan dibanding aku yang saat itu menjadi pasanganmu. Tapi, aku tak bisa benar-benar marah, karena itu konsekuensi sebagai pendamping laki-laki yang bertanggung jawab dan memiliki loyalitas tinggi seperti kamu. Senangnya aku, saat ini bebanmu sudah berkurang satu. Aku sangat bangga padamu, Leo.

Loyalitas. Kamu sangat menekankan pentingnya hal itu. Bukan teori, tapi praktik kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang membuatku tak menyesal memberikan hatiku untukmu. Kamu tahu, Leo, bahwa loyalitas ini menjadi syarat yang menjegal beberapa laki-laki lain untuk dekat denganku? Kamu dan kesetiaanmu menjadi patokan dalam pencarianku. Sesungguhnya itu menyulitkan, namun aku butuhkan.

Tiga bulan waktu yang lama untuk pemulihan patah hatiku, Leo. Normalnya, sebulan sudah cukup untukku memulai kisah baru, meski hanya sekedar nyaman akan kehadiran. Tapi, kenapa kita berbeda? Ada beberapa sosok yang menyatakan perasaan dan aku balas dengan penolakkan. Tidak ada ketertarikan yang lebih dari teman. Sekalinya aku menemukan yang membuatku cukup nyaman, ternyata statusnya tidak aman. Ah, mungkin aku mencari loyalitas di lingkungan yang salah.

Bagaimana dengan pencarianmu? Hahaha, aku bercanda kok. Aku tak perlu tahu. Aku tak mau tahu. Apapun jawabannya, aku hanya ingin kamu lebih bahagia.

Leo, dengan atau tanpamu aku bahagia. Aku yakin kamupun seperti itu tanpaku. Tapi, ada hal yang masih mengganjal. Kenapa aku masih merasa hampa ketika malam tiba? Kenapa dadaku masih sesak ketika bersingggungan dengan memori tentangmu? Kenapa kekosongan masih menyiksa meski sedang tertawa?

Penuh cinta,
Mrs da Vinci-Wick

Komentar

Postingan Populer