Real(ity) Nightmare

Semua orang pasti pernah mendapat mimpi, entah itu mimpi yang menyenangkan, mimpi buruk, atau sekedar bunga tidur yang ketika membuka mata -woosh!- mimpipun sirna, tanpa jejak terekam dalam memori. Dari mimpi yang dialami, entah dengan orang lain, aku paling menginginkan mimpi indah yang menjadi nyata. Well, siapa yang ga mau? ;)
Ketika sudah bermimpi yang menyenangkan, sepertinya 24 jam sehari pun ga cukup untuk mimpi hadir dalam tidur kita. Sayangnya, ga setiap tidur kita bermimpi yang diinginkan hati. Kadang, yang sangat tidak kita inginkan, atau kita khawatirkanlah yang menemani istirahat kita. Berbanding terbalik dengan mimpi jenis pertama, mimpi buruk a.k.a nightmare a.k.a bad dream, meski hanya sejam "menyapa" membuat tidur terasa begitu lama.
What's worst about nightmare? When it's not just a nightmare. It's real. It happens in reality.
Beberapa malam lalu, aku sempat mengalami hal itu. First, I thought it was just another bad dream. Then I woke up, and realized... Damn! It's a real story! Mau kesal sama mimpi, tapi mimpi salah apa? Mau marah sama orang-orang yang "berperan" dalam mimpiku itu, tapi itulah kondisi mereka sebenarnya. Setelah sukses menenangkan diri, mengumpulkan nyawa, dan menyadari dimana saat aku terbangun berada, aku sadar hanya ada satu orang yang patut dan layak aku persalahkan. Diriku.
Want to know what was my dream? Aku sedang berada di wisuda seseorang yang kuliah satu angkatan di bawahku, bersiap-siap menuju wisuda BK 2009, dimana ada beberapa seangkatanku juga yang menjadi wisudawan dan wisudawati, entah kenapa ada orangtuaku, dan mereka bertanya, dengan suara rendah:
"Kapan kamu wisuda?"

Pejuang Skripsi,
-M

Komentar

Postingan Populer