Supportive Spouse

"Bu, teteh pengen nikah muda deh..."
"Kamu sekarang umurnya berapa?" 
"23..." 
"Itu mah udah tua! Ga bisa nikah muda atuh..."
Beberapa bulan lalu, dialog itu terjadi di dapur antara aku dan Ibu. Obrolan santai tapi serius yang diselingi canda, walau kadang menimbulkan luka karena faktanya terlalu nyata. Tapi bukan nikah muda yang akan aku bahas saat ini, melainkan sosok di sebelah kananku ketika di pelaminan nanti. Hingga detik ini, aku masih belum tau siapa yang akan menjabat tangan wali nikahku ketika ijab qabul. Aku masih mempertanyakan siapa dia?

Mendapatkan orang yang bisa mendampingi aku, mungkin termasuk hal yang mudah. Apalagi kalau aku hanya menunjukkan sebagian dari diriku yang sesuai dengan keinginan mereka. Tapi, menurutku bukan itu esensi dari suatu hubungan, baik romantic relationship atau platonic relationship. Untuk apa didampingi orang dengan mengorbankan sisi lain dari diri kita? Itu hanya akan menjadi bom waktu yang ketika meledak akan menghancurkan hubungan yang telah terbina.

Teman dan sahabat adalah dua istilah yang berbeda, meski kadang ada yang menganggapnya sama. Hanya karena seseorang selalu bergaul denganku, berbagi cerita, tawa, dan rahasia, belum tentu layak dikatakan sahabat. Sahabat lebih dari itu.

Orang yang bisa aku ajak berbagi kisah, tapi juga kehidupan...
Orang yang mau menjadikan dirinya sebagai tempat bersandar ketika aku lelah...
Orang yang mau menjadikan dirinya sebagai tempat aku berpijak ketika aku goyah...
Orang yang mendorongku dari tebing agar aku berani mengepakkan sayap...
Orang yang menarikku ketika aku terbang terlalu tinggi...
Orang yang meski tahu sisi kelamku tapi tetap mau membantuku memperindah sisiku yang lain...
Dan mereka melakukannya karena mereka mau. Bukan karena siapa aku atau apa yang bisa mereka bisa dapat dariku.

Itu hanya sebagian kecil "kriteria" sahabat versiku. Alhamdulillah, aku punya beberapa sahabat yang setia. Orang-orang yang ga jarang membuatku kesal, bahkan marah, karena mampu "menampar"ku. Tapi mereka juga yang "membelai" lembut bekas tamparan itu. Mereka, aku yakin, adalah orang-orang yang tidak hanya menjadi pendampingku, tapi juga supporterku.

Berbeda dengan teman. Teman mungkin mau mendampingi aku, apalagi bila terjadi simbiosis mutualisme, atau setidaknya komensalisme. Tapi apakah mereka yang berstatus teman ini akan support aku? Entah. When it comes to support people, ga hanya tentang ucapan "semangat ya!", "good luck!", atau "wish you all the best!" seperti di ucapan ulang tahun. Tapi juga tentang keikhlasan dan usaha. Yup! Ketika support orang lain, aku pikir kitapun perlu berusaha. Kalau ga bisa bantu mengerjakan apa yang dilakukan orang lain, minimal doa lah... Aku lebih menghargai orang yang jujur mengatakan "sorry, gue ga bisa bantu. But call me if you need me..." instead of "semangat ya, Mi!". Aku lebih merasa keberadaan orang tipe pertama dibanding kedua. That's why parents will always be my number one supporter! :*

Begitu juga dengan pendamping hidup. Mungkin ini juga alasan aku memilih untuk pacaran dibanding hanya sekedar dekat, menjauh, dekat dengan yang baru, lalu nikah. Ketika pacaran, aku bisa tau bagaimana pasanganku menghadapiku dalam kondisi normal, kondisi terbaik, hingga kondisi terburukku. Dari beberapa hubungan yang aku jalani, ada yang benar-benar terasa sebagai pendamping dalam suka dan duka, sayangnya ada faktor X yang membuat kami memutuskan we didn't made for each other. :')

Dalam romansa, "beban" akan semakin berat, karena Mr X ga hanya support aku, tapi juga support hubungan kami. Bagaimanapun juga hubungan ga bisa berjalan apabila hanya satuh pihak yang bergerak, kan? Mendukung jalannya hubungan ga selalu tentang komunikasi, tapi bagaimana kami menjalani kesepakatan untuk mencapai visi kami. Dalam beberapa kasus yang aku temui, di sinilah masalah terjadi. Kasus seperti apa? Nanti aja aku bahasnya. Hahaha. Intinya, kadang perbedaan antara ekspektasi dan realita mampu mengganggu kestabilan hubungan dan goyahnya perasaan yang akhirnya membuat galau.

Sampai kapanpun aku ga akan pernah mendapatkan laki-laki yang sempurna. Tapi, bukan berarti aku ga bisa bersama dengan laki-laki yang baik untukku. Akan selalu ada kekurangan dari pasanganku, namun selalu ada kelebihan darinya. Aku hanya ingin siapapun yang menjadi pendampingku kelak, bisa menjadi sahabatku.
Aku mungkin masih muda untuk membawa hubungan ke jenjang pernikahan, tapi aku sudah terlalu tua untuk main-main dengan hubungan dan perasaan.
Love,
M

Komentar

Postingan Populer