Jaga Jarak Aman


Halo, kamu! Kalau kamu tidak hanya hidup di dalam rumah, kamu pasti pernah melihat tanda ‘Jaga Jarak Aman’ di jalan raya. Apalagi kalau kamu termasuk orang yang sering mengendarai kendaraan di tol, tidak hanya sebagai penumpang. Jaga jarak aman itu penting lho... Bukan hanya untuk yang baru belajar mengendarai mobil atau motor, tapi juga untuk orang yang sudah mahir nyetir. Kenapa aku bahas jaga jarak aman? Ga ada hubungannya dengan Taku kok... Sudah lama ga nyetir semenjak pengalaman di jalan raya yang beberapa bulan lalu sempat aku post. Jaga jarak aman yang akan aku bahas saat ini berhubungan dengan passion aku: love and relationship. Teteeeeppp...

Berdasarkan pengalamanku, jaga jarak aman dibagi menjadi dua kategori berdasarkan resiko:

1. Identified risks
Identified risks atau resiko-resiko yang sudah teridentifikasi a.k.a jelas resikonya adalah resiko-resiko atau kemungkinan yang bisa terjadi apabila kita memasuki jarak tidak aman dalam suatu hubungan. Misalnya, kita sudah lama dekat dengan seseorang sebagai teman, lalu karena terbawa suasana, kita jadi terlibat istilah ‘naksir’. Sebenarnya bisa saja kita meningkatkan status hubungan dari pertemanan menjadi pasangan, tapi karena ada resiko-resiko yang jelas kita memilih untuk tetap berada dalam zona pertemanan. Semacam friendzone? Mungkin.
Kita tahu harus jaga jarak aman karena adanya IR adalah kalau kita berhubungan dengan orang yang sudah kita kenal cukup lama, bukan orang baru dalam lingkaran sosial kita. Dalam banyak kasus hal ini terjadi pada dua orang teman, tapi bisa juga terjadi antara kita dengan rekan kerja (bahkan atasan!). Resiko-resiko apa saja yang mungkin terjadi? Yang paling sering terjadi adalah hancurnya kenyamanan yang telah terbina sebelumnya. Bahkan dalam kasus yang cukup berbahaya, akhirnya tidak ada lagi kata ‘teman’. Kalau berubah jadi pasangan sih ga apa-apa, lah ini malah jadi ga ketemuan. Malah menjauh. *pukpuk orang yang tertimpa hal itu*

Dalam dunia kerja, resiko dalam melanggar jarak aman yang ringan adalah jadi gosip rekan kerja lain, lalu berkembang menjadi kurangnya profesionalitas dalam bekerja, dan berakhir pada (di)berhenti(kan) kerja. Contohnya seperti Kugy dan Remi dalam cerita Perahu Kertas karya Dewi Lestari.

2. Unidentified risks
Hello, Stranger! Kalau di golongan pertama berhubungan dengan orang-orang yang sudah lama berada di social circle, saatnya beralih kepada orang yang masih membuat kita penasaran dengan kehidupannya yang belum kita tahu. Yes, si orang asing yang pastinya belum terlalu kita kenal. Well, mungkin tidak sepenuhnya orang asing. Hanya saja kita belum terlalu mengenal dia. Bisa saja dia teman kita, tapi karena kurangnya interaksi, kita jadi ga terlalu kenal.
Resiko apa aja yang mungkin terjadi kalau tidak menjaga jarak aman dengan manusia asing ini? Yang paling sederhana adalah kita jadi manusia ngarep yang menimbulkan persepsi bahwa si dia adalah PHP atau sebaliknya. Justru dia yang ngarep sama kita dan kita lah yang dicap sebagai pemberi harapan. Kalau sudah seperti ini, hubungan bisa menjauh dan kita kehilangan aset berharga. Hmm... Oke, kalaupun tidak terlalu berharga, setidaknya kita kehilangan salah satu koneksi yang bisa menjadi batu loncatan masa depan. :p
Selain itu, perasaan kita juga bisa menjadi ‘korban’ akibat permainan yang sebelumnya tidak kita ketahui. Oh ya, kita ga tahu kalau ternyata si stranger adalah player. Begitupun sebaliknya. Kita bisa dianggap jahat karena mempermainkan perasaannya.  Dicap buruklah kita oleh orang lain yang kurang mengenal kita. Ada lagi resiko lain. Kalau ga jaga jarak aman, bisa saja kita mendapat teror dari orang yang pernah hadir di masa lalunya yang belum terima si doi move on.

Dari tadi kita bahas tentang resiko-resikonya. Terus gimana supaya bisa tetap jaga jarak aman?
Enjoy the showGa perlu terlalu manis, sampai mereka mikir kita naksir dan memberi lampu hijau, tapi ga perlu jutek sehingga mereka mikir kita ga tertarik pada mereka.
Kita bisa care tapi tetap menunjukkan kalau we’re available. Mungkin beberapa orang menyebutnya tarik ulur, I don’t know. Tapi jangan terlalu lama juga... Kita akan kehilangan banyak momen berharga. Kalau jarak antara kita dan mereka sudah aman, bikinlah kesepakatan mau dibawa hubungan kita. Tsaaaah...

Spread the love!
-M


Komentar

Postingan Populer