Enlightment

Hari ke-89

Selamat malam.
Iya, di tempatku mengetik post ini memang sudah malam. Dini hari, tepatnya. Waktu di laptop seorang teman dekatku ini menunjukkan pukul 1 lewat 46 menit. Bukannya aku terbangun setelah sempat menikmati tidur, tapi karena aku memang belum tidur lagi sejak alarmku berbunyi pukul 8 pagi tadi... err... kemarin.
Banyak hal yang terjadi beberapa minggu terakhir di tahun Naga Air ini. Banyak juga hal yang belum terjadi dan tidak terjadi, misalnya kiamat dan seminar proposal skripsiku. Tapi aku tidak akan membahas hal itu. Not in the mood. Saat ini aku akan share tentang apa yang terpikir olehku setelah ngobrol santai dengan beberapa orang terdekatku. Kalau kamu pernah membaca postku sebelum-sebelum ini, kamu pasti bisa memprediksi apa yang akan aku ceritakan. ;)
Tepat hari ini, Minggu, 30 Desember 2012, aku memasuki hari ke-89 sebagai perempuan single. Oke, kalau istilah itu terlalu bagus, aku ganti dengan 'jomblo'. Setelah menyandang status baru ini bukan berarti aku ga dekat dengan laki-laki lain. Sempat dekat dengan beberapa orang, tapi karena aku ga mau punya hubungan sampai akhir tahun ini, jadi aku cut off. Apalagi salah satu orang sempat dekat itu melabeli aku sebagai PHP a.k.a pemberi harapan palsu.
Bagaimana hubunganku dengan mantan terakhirku? Hingga Jumat siang masih sangat baik. Kami masih saling menghubungi via twitter, BBM, dan/atau SMS. Tapi sekali lagi aku tegaskan, hingga Jumat siang. Dari rentang waktu antara Jumat siang-Minggu dini hari ini banyak hal yang muncul di pikiranku. Yup, betul... Aku sudah mulai bisa berpikir kembali.
Ini semua berawal dari komentar sahabatku:
Lo terlalu manjain dia. Dia jadi ga mandiri.
Aku pun langsung merefleksikannya. Apa yang dia ucapkan benar adanya. Aku terlalu memanjakan dia...dan diriku, sehingga kami berada dalam kondisi yang anak-anak gaul Twitter sebut "Gagal Move On". Kami belum berani keluar dari zona nyaman kami. Kami masih saling mencari. Kami masih ingin berada di sisi satu sama lain, tapi tidak untuk dalam hubungan. Istilah apalagi yang layak untuk kondisi kami?

Kalau mau membahas rasionalisasiku, bisa dzuhur post ini baru beres aku ketik. Karena aku belum sepenuhnya dilantik jadi zombie, aku masih butuh tidur untuk merecharge energiku. Aku skip hingga 'enlightment' lain yang aku dapat. Well, lebih confession dari seorang teman dekat yang entah kenapa baru dia kasih tau beberapa jam lalu:
Sebenarnya dari awal aku juga ga terlalu setuju kamu sama dia.
Kenapa ga bilang dari awal?! Dengan statement dia seperti itu, berarti nambah lagi orang yang berharap aku mendapatkan pasangan lain. Meskipun telat bilangnya, aku tetap berterima kasih atas kejujurannya, juga atas pertanyaan retorisnya.
Ngapain sih buru-buru pengen punya pacar?
Tiga hal sederhana itu membuatku berpikir ulang tentang apa yang aku lakukan selama ini. Alih-alih aku ga tega untuk begitu saja meninggalkan laki-laki yang jadi pacarku selama 18 bulan, aku malah menjebak diriku dan dirinya untuk terperangkap dalam 'hubungan tanpa status'. Kami ga bergerak kemana-mana, masih di tempat yang sama. Ketidakpastian. Aku ga mau balikan, meski aku tau mantanku itu pasti ga nolak untuk kembali jadi pacarku. Tapi dengan yang terjadi pada kami, bukankah secara teknis kami 'masih' pacaran? Sejahat itu aku mempermainkan perasaan orang yang pernah aku sayang? Bukankah salah satu bukti kasih sayang itu membuat orang yang kita sayangi menjadi lebih baik, lebih kuat, dan lebih tegar?
Akhirnya mulai tadi pagi aku balas BBM dia a la kadarnya. Biasanya kalau dia menunjukkan tanda-tanda jealous, aku coba ademin, kalau sekarang biarkan saja. Aku ga punya tanggung jawab apapun tentang perasaannya. Aku sudah tidak memiliki kewajiban untuk membuat dia nyaman di sampingku. Ga hanya dia kok. Aku memang belum merasa butuh orang berstatus pacar, jadi aku ga perlu repot-repot membuat orang lain nyaman di sampingku agar dia ga whooosssss! Pergi begitu saja.
Aku masih punya sahabat-sahabat dan teman-teman dekat. Aku masih punya keluarga. Aku masih punya cita-cita dan mimpi. Aku punya rencana. Aku punya visi dan misi. Aku punya kehidupan yang ga membutuhkan gangguan atau distraksi dari pihak manapun. Aku pun sadar, aku masih punya kamu, yang aku tau mengamatiku meski ga aku sadari. :)

Spread the love,
M

Komentar

Postingan Populer