(mem)Berani(kan) Bersama Taku

Who's Taku? Another man?
Aku ga heran kalau kalian menyangka seperti itu. Yaa... Bisa dibilang Taku adalah 'laki-laki', walaupun harus aku akui kalau Taku sama sekali bukan termasuk makhluk hidup. Taku adalah nama mobilku... mmm... Mobil Ibu lebih tepatnya. Usia Toyota Starlet putih ini lebih tua dariku, tapi baru kami 'adopsi' hampir seminggu ini. Mesinnya masih oke, walaupun dari body dan interiornya mencerminkan usia sebenarnya. Gimana ga mencerminkan usianya kalau masih pakai radio tape instead of DVD player? :)
Orang pertama yang 'dekat' dengan Taku adalah sahabatku, my best man, Fahmi. Dia yang nemenin aku cari alamat Taku, bawa ke Bogor, dan jalan-jalan pertama Taku di Bogor pertama kali. Orang kedua yang coba dekatin Taku adalah Bapak, tapi Bapak... mmm... Kurang klop sama Taku. Hufff. Ada bagusnya juga sih, berarti 'penguasa' Taku di rumah adalah AKU! MWAHAHAHAHA. Eh, itu kalau ga ada Fahmi deh... Ibu sepertinya lebih mempercayakan Taku pada manusia super itu dibanding aku. Aku juga sih lebih percaya kalau dia yang berada di belakang stir Taku daripada aku sendiri. :p
Minggu pagi kemarin, aku berhasil 'mendesak' Bapak untuk ajarin aku nyetir mobil. Not bad untuk pemula walaupun masih ngaco ketika harus nge-gas setelah nge-rem. I'm so bad on this. Kami ga lama berada di tempat latihan. Niatnya, next practise aku latihan untuk gonta-ganti gigi. Ga asik kalau nyetir cuma pakai gigi 1. Pfftt. Dasar aku tipe orang yang learning by doing (baca: langsung praktik), beberapa hari setelah latihan (tepatnya hari ini), aku bawa Taku langsung ke jalan raya! Selamat sampai rumah? Pastinya. Tapi, ga seru kalau langsung sampai rumah. Karena itu aku akan cerita apa yang terjadi selama di jalan menuju rumah. ;)

Pagi tadi aku dibangunkan oleh Bi Nani (PRT di rumah kami) yang memberi kabar bahwa Mbah Aip a.k.a Emi meninggal. Aku segera SMS Ibu incase Ibu belum tahu tentang hal ini. Baru menggigit 2 suap roti, aku diminta untuk keluarin Taku dari gang, karena ada ambulance yang akan masuk. Dengan sigap aku mengambil kunci mobil, lalu memundurkan mobil ke palas (parkiran atas lapangan). Dibantu sama beberapa bapak-bapak juga sih buat ngarahin aku. Hihihi. Selesai parkir, aku mandi, lalu pergi ngelayat ke rumah Emi. Ibu bilang yang bawa mobil ke makamnya Bapak aja. Well, sebenarnya aku udah niat untuk nyetir sendiri. Jadi Bapak ikut atau ga, bukan masalah buatku. Hahaha. Sotoy ye? Ternyata benar! Bapak malah ikut rombongan lain karena ga ada chemistry sama Taku! Tanpa pikir panjang aku duduk di driver seat Taku. Tak disangka ternyata Ibu rela duduk di sebelah anaknya yang belum ahli nyetir ini menempuh perjalanan yang cukup jauh. Ibu yang baik... *cups
Tantangan pertama:
MELUNCUR SETELAH BERHENTI LAMPU MERAH
Seperti yang sudah aku jelaskan di atas, aku masih ngaco dalam melaju setelah berhenti. Alih-alih maju ketika lampu hijau, Taku malah mati sampai kami 'terjebak' lampu merah lagi. Untungnya di belakang kami rombongan konvoi juga, jadi ga diklaksonin (terlalu banyak). Lampu hijau lagi, aku berhasil memacu Taku untuk meluncur hingga menemukan hal yang bikin Ibu dag dig dug.
Tantangan kedua:
REL KERETA BUBULAK
Jangankan bawa mobil, nyetir Beanku pun aku masih deg-degan setiap lewat rel kereta api. Khusus rel ini, faktor yang bikin deg-degannya nambah: pertigaan dan tanjakan. Sempat khawatir kalau mesin mati ketika mobil tepat berada di tengah rel dan tanda kereta akan lewat sudah dibunyikan, tapi ternyata itu murni kekhawatiranku aja, walaupun 'bel kereta'nya memang bunyi ketika mobil berada di lintasan. Guess who was panic? MOM! Perjalanan berikutnya bisa dibilang lancar, kalau kita ga membahas kepanikan Ibu yang terjadi sepanjang jalan, apalagi karena aku sangat menyukai sensasi pengereman mendadak... Asal ga nabrak aja.
Tantangan ketiga:
MELAJU DI JALUR SEMPIT DUA ARAH YANG BANYAK POLISI TIDURNYA
Sukses sih sukses... Tapi ibarat main game, aku ga dapat gold trophy karena sempat nyetirnya terlalu mepet trotoar. Menurut pengakuan Ibu, dua pemuda yang lagi nongkrong di pinggir jalan sampai memasang tampang kaget ketika aku berhenti sejenak, memberi jalan bagi kendaraan dari arah lain untuk lewat, paaaassss banget di pinggir trotoar. Lewatin polisi tidurnya sih masih oke-oke aja, karena ga terlalu kerasa walaupun tetap harus angkat gas. Setelah melewati tantangan ini, kami pun (AKHIRNYA!) sampai di makam. Aku parkir di pinggir jalan, karena tempat parkirnya penuh. Prosesi pemakaman ga terlalu lama. Sekitar setengah jam di makam, aku kembali berada di balik kemudi Taku. Yang beda adalah 'navigator'ku: Mang Joko. Bi Wiwik stand by di seat belakang.
Rencananya, aku mau putar balik ke arah jalan datang. Kalau seperti itu, otomatis aku harus masuk parkiran dulu, mundur, lalu baru bisa jalan lurus. Mang Joko, yang ga tau kalau aku bisa parkir, minta aku untuk langsung lurus lewat Taman Kencana. Bi Wiwik sebenarnya setuju dengan ideku, tapi Mang Joko keukeuh maunya lewat sana. Karena aku keponakan yang baik, aku turuti, hitung-hitung jalan latihan baru.
Tantangan keempat:
JALAN SEMPIT DENGAN MOBIL ANGKOT PARKIR DI SEBELAH KIRI SETELAH BERHENTI
Aku sudah bilang jalan di sana sempit dan untuk dua arah, bukan? Cukup sempit sampai salah satu mobil yang lewat harus memelankan laju, bahkan sampai berhenti, agar kendaraan di jalur yang lain bisa lewat. It happened to me too. Dari arah yang berlawanan ada beberapa mobil dan motor yang akan lewat, kebetulan mereka melewati turunan. Mau ga mau aku yang harus ngalah dan memberi jalan untuk mereka. Aku pun berhenti di belakang angkot yang lagi parkir. Ketika akan melanjutkan perjalanan, aku ga sadar kalau bagian kiri mobil belum sepenuhnya 'keluar' dari 'bayangan' angkot. DUK! DUK! DUK! Tiga kali angkot itu aku serempet. Penumpang Taku sontak teriak panik yang bikin aku semakin panik. Aku segera menginjak gas untuk menghindari masalah. I'm soooo sorry for being irresponsible. :((
Selama di jalan, untuk meredakan panik aku berpikir 'karma does exist'. Untuk mengurangi rasa bersalah juga sih... Dan benar saja. Karma itu nyata, kawan! Di belokan Sempur ke arah Istana, mobil nabrak bumper belakang taksi dan harus ganti rugi. Alhamdulillah sopir taksinya baik, ga marah-marah dan ga minta ganti rugi banyak-banyak. Alhamdulillah juga aku ditemani Mang Joko yang mau ganti rugi Pak Sopir itu. Terima kasih. :)
Baiklah, perjalanan kami lanjutkan. Masih di Jalan Jalak Harupat, setelah melewati lapangan sempur, jalannya agak nanjak. Kalau jalanan lancar, bawa mobil asik aja. Berhubung waktu pulang sekolah, jalan itu padat merayap. Bukan kondisi yang tepat untuk manusia yang sedang belajar nyetir mobil ditemani orang-orang yang ga bisa nyetir juga. Berhubung sudah dua kali aku shock therapy dalam sehari, Mang Joko dan Bi Wiwik meminta aku untuk pelan-pelan dan sangat menjaga jarak dengan kendaraan di depan which mean aku harus siap-siap menginjak rem dari jarak jauh.
Tantangan kelima:
MELEWATI JALAN NANJAK JALAK HARUPAT
Awalnya masih padat merayap, jadi aku masih bisa stabil antara lepas kopling dan injak gas. Lama-lama jadi berhenti di tengah jalan. Pas aku mau jalan, gas harus agak ditekan supaya Taku punya power buat nanjak. Aku coba praktik. Lepas kopling pelan-pelan dan... Mobil mundur. Aku injak gas, mesin mati. Pintar! Aku coba lagi. Taku berhasil maju walaupun agak cepat dan... Mang Joko panik minta aku injak rem. Ujung-ujungnya adalah: meminta bantuan orang lain untuk membawa Taku ke pinggir supaya ga ngalangin jalan, apalagi di belakangku ada perempuan jatuh dari motor karena ditabrak mobil belakangnya. Setelah mobil dipinggirkan, ada polisi yang nyamperin.
Mang Joko: "Tami punya SIM A?"
Aku: "Belum punya."
Mang Joko: "Aduh, ditilang deh ini..." 
Ternyata Pak Polisinya cuma bilang, "mutar aja, mbak, supaya gampang." Beliau pun mengatur lalu lintas sehingga aku bisa mutar balik. Hore! BTW, ketika mutar balik ini, Mang Joko ada di luar mobil, habis mendorong mobil bersama kedua pemuda lain. Beliau panik (lagi) ketika aku putar balik, speedku agak cepat. Wajar kan ga mau nambah kemacetan? Perjalanan berlanjut tanpa hambatan berarti. Kecuali kepanikan yang masih menyergap dan memenuhi dalam mobil. :p
Sampai di rumah, aku ditelepon Ibu. Aku cerita apa yang terjadi. Luka-luka apa saja yang dialami oleh Taku. Sangat takut Ibu marah dan ga mengizinkan aku untuk meminjam Taku lagi. Ternyata Ibu, setelah pulang kerja, bilang gini, "poles mobilnya nanti aja ya, kalau Teteh udah mahir bawanya. Sekarang pakai buat latihan aja dulu". LEGA! Alhamdulillah Ibu ga marah dan masih percaya sama aku. Tiga orang yang mengikuti petualanganku hari ini sepakat mengakui kalau aku berani untuk 'terjun' langsung di jalan supaya lebih lancar. :D
Betapa campur aduk perasaanku saat ini. Sedih, nervous, panik, senang, lega. But overall, despite the thrilling driving experience, I had an amazing adventure! Such an exciting day! Thank you sooo much for making my life more... Colorful.

Keep trying.
M

Komentar

  1. taku tuh dari takumi yang di initial d ya?? woow.. welcoming taku...

    BalasHapus

Posting Komentar

Menurutmu gimana? :)

Postingan Populer