Sebuah Tulisan Untuk Tuanku

Tuan, saya hanya tidak mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan Anda saat ini. Karena setiap langkah yang saya ambil tentang Anda... Sekecil apapun itu... Ibarat 2 mata pedang. Akan selalu ada yang tersakiti. Entah saya, Anda, dia, ataukah mereka. Saya tidak mampu membahagiakan semua pihak. Saya ingin Anda percaya bahwa saya pun terkadang merasa tersiksa dengan keadaan ini. Namun saya dan Anda harus bisa melewatinya agar saya dan Anda benar-benar memahami apa dan siapa yang saya dan Anda butuhkan. Saya percaya Anda adalah yang terbaik untuk saat ini dan masih Anda orang yang saya butuhkan untuk saat ini.

Tuan, sadarkah Anda, luka yang Anda rasakan terasa beratus kali lebih menyakitkan bagi saya? Kebahagiaan yang Anda rasakan terasa beribu kali lebih indah bagi saya? Kenyamanan yang Anda rasakan terasa berjuta kali lebih menenteramkan bagi saya? Namun Anda bisa beratus kali mencurahkan rasa sakit Anda, mampu beribu kali mengekspresikan rasa bahagia Anda, dan dapat berjuta kali membagi kenyamanan Anda dibanding saya!


Tuan, saya pun merasa menyesal ketika saya tidak ada di sisi Anda saat Anda menginginkan saya untuk berada di sana. Betapa menyesalnya saya mengetahui harapan Anda yang tidak dapat saya penuhi karena kebodohan saya. Saya sangat menyesali keputusan saya yang, saya akui, sangat terburu-buru dan tidak saya pikirkan terlebih dahulu. Sayangnya, ketika saya menyadari kesalahan yang saya lakukan, semua sudah terlambat. Maaf atas perlakuan saya, Tuan. Semua ini saya lakukan semata karena saya sayang Anda.

Tuan, saya bukanlah orang yang memberi kesempatan kedua. Namun, Anda adalah pengecualian terindah dalam hidup saya dan akan selalu seperti itu. Anda lah sosok yang dapat membuat saya menikmati dan menanti rasa sakit dari perhatian yang Anda berikan. Tapi, siapakah saya untuk Anda, Tuan?

Tuan, bila Anda telah menemukan kenyamanan lain, saya selalu berdoa agar Anda bahagia tanpa terluka. Namun bila masih saya, semoga Anda dapat mengkombinasi setia, logika, dan realita. :)


Regards,
Mediatami

Komentar

Postingan Populer