Monday, December 14, 2015

#Lucky7

Bagi beberapa orang, pendidikan tinggi adalah hal mewah yang perlu diperjuangkan agar dapat diraih dan dinikmati. Aku termasuk dari golongan orang beruntung yang dapat mengenyam pendidikan tinggi tanpa perlu banting tulang berjuang untuk mendapatkannya. Orangtua masih mampu menjadi sumber dana pendidikanku. Bukan berarti aku sama sekali tidak berjuang. Aku tetap berjuang kok, namun perjuanganku hanya sekedar mendapatkan dan mempertahankan nilai mata pelajaran agar tetap di atas atau setidaknya tepat di SKM (Standar Ketuntasan Minimal) –atau SKBM (Standar Ketuntasan Belajar Minimal) versi zaman SMAku—dan kehadiran yang cukup.

Kamu tau apa yang membuatku merasa lebih beruntung dan bersyukur? Skor IQ 123 –di atas rata-rata—yang membuatku cukup lancar menjawab soal UN (Ujian Nasional) dan UMB (Ujian Masuk Bersama). Well, lancar di sini artinya cukup banyak soal yang bisa aku jawab yaaa... Bukan BENAR aku jawab. Hasil UMB membuatku terdaftar di pilihan keduaku: Bimbingan dan Konseling (Universitas Negeri Jakarta). Apa pilihan pertamaku? Sastra Perancis di Universitas Indonesia. Hahaha, pas UMB aku ngikut jurusan IPS soalnya, ga minat IPA (padahal di SMA jurusan IPA). :p

Keterima di BK, ternyata aku masih dapat kemudahan. Bayaran per semesternya murah! Angkatan 2008 reguler hanya Rp 600.000 dan itu SUDAH TERMASUK SKS. Alhamdulillah… Masuknya mudah, biayanya murah. Lingkungan sosialnya termasuk menyenangkan. Berhubung BK termasuk ilmu sosial, materi kuliahnya ya yang berhubungan dengan ilmu sosial dan psikologi. Hanya statistika dan statistika lanjutan yang ada angka-angkanya (and I got Cs!). Eh tapi walaupun ilmu sosial seperti ini lebih mudah aku cerna (dibanding IPA, catat), tetap aja ilmu dasar BK aku dapat C. *nyengir*

Kamu tahu, di Indonesia standar masa studi S1 adalah 4 tahun. Sebagai (saat itu) mahasiswa baru, aku pasti semangat bikin rencana studi agar bisa lulus tepat di tahun keempat kuliah, yaitu 2012. Ternyata oh ternyata… Batas minimal lulus dari jurusanku (untuk angkatan 2008) adalah 9 semester a.k.a 4,5 tahun. Bisakah aku lulus 4,5 tahun? Ga bisa! HAHAHAHAHA. *ketawa superduper miris*

Ngantri sidang
Kenapa ga bisa?
Semester 6 aku ambil mata kuliah Penelitian Berbasis Gender (PBG) –the first and last time I got E- tapi karena minat penelitianku ditolak oleh dosen ketika seminar proposal, aku ga lulus. Semester berikutnya PPL (Program Pengalaman Lapangan). PPL ini sifatnya blok, jadi mahasiswa (baca: aku) ga boleh ambil mata kuliah lain. Tapi yang udah sempro di PBG (which is 4 of 6 students, yes… Only 6 students took that minor) boleh tetap ngerjain skripsinya, walaupun tetap aja ga fokus. :p

Setelah PPL, yang notabene semester 8, dimana mahasiswa seharusnya bisa fokus skripsi, eh… Kami dapat kejutan berupa mata kuliah tambahan (I’ve posted it here). FYI, di semester 8 akhir atau semester 9 awal mayoritas BK 2008 pada sempro. Minoritasnya (kurangi 4 orang dari PBG) ada yang masih kuliah biasa dan telat sadar akan adanya sempro, jadi ga ngumpulin proposal. Termasuk aku. >.< Aku baru kumpulin proposal di Desember 2012 dan dapat jadwal seminar 4 Maret 2013 which means semester 10.

Alhamdulillah, judul penelitianku tentang media sosial langsung disetujui. Untuk yang belum tau alur skripsi di jurusanku, aku jelasin dikit nih:

Kumpulin proposal (asal juga ga apa-apa, tho nanti direvisi) – Seminar proposal – Kumpulin revisian – Dapat dosen pembimbing – Bimbingan (ini sih terserah kita-nya mau berapa semester) termasuk turun lapangan – Seminar Hasil Penelitian (SHP) – Revisi SHP – Sidang akhir – Yudisium (nilai/kelulusan diumumkan setelah jadwal sidang di fakultas selesai) – Wisuda

Lagi on fire revisi, eh… Kedua dosen pembimbingku kompak banget ke Eropa hampir sebulan. Ibarat api unggun nih, lagi nyala gede, terus ketumpahan air laut. Padam seketika. Ditambah lagi saat itu aku lagi senang-senangnya jadi travel guide. Yowis, gagal fokus.

Skip skip skip

Kenapa aku skip? Karena aku ngadep dosen satu semester sekali. Atau 2x deh. Awal semester ngasih revisi, akhir nerima feedback. :p Baru cukup aktif di semester 13, itupun masih setengah hati karena sesungguhnya saya tidak tertarik dengan kuantitatif, tapi mau dijadiin kualitatif agak ribet juga. Mulai saat itu ada doa yang aku panjatkan, doa iseng yang akhirnya jadi nyata.

Ya Allah, saya ingin lulus S1 BK, tapi ga ingin ngitung.

And… Voila! SELAMAAAT! Doamu terkabul, Mi!

Pertengahan semester 14 (baca: semester penentuan 2008 dapat ijazah atau surat keterangan pernah kuliah a.k.a DO), sisa-sisa 2008, 2009, dan 2010 dikumpulkan oleh jurusan. Selama kurleb 4 semester terakhir, tiap bulan jurusan cukup sering ngadain kumpul bersama para sisa-sisa mahasiswa 2008. Semacam progress report gitulah… Di pertemuan terakhir, setelah pengecekan progress, 2008 terbagi 3:

  1. Mereka yang telah turun lapangan/sudah bab 3 boleh melanjutkan skripsi
  2. Mereka yang belum nyentuh bab 3 dialihkan ke makalah komprehensif
  3. Mereka yang pernah cuti ada tambahan 1 semester
Tebak aku masuk yang mana? Golongan 2.

Progressku yang ga bisa dibanggakan membuatku harus mengikis sedikit idealismeku dengan merelakan diri menjadi mahasiswa well… Sebelas mahasiswa mendapat “kehormatan” untuk mengerjakan MK yang mendapat keringanan mengerjakan karya ilmiah berbentuk makalah komprehensif (MK). MK ini ga diberikan oleh semua jurusan. BK pun sebenarnya ga mau ada MK, tapi berhubung pengaruhnya ke reputasi dan akreditasi,

Cukup banyak dosen yang terkesan memandang MK sebelah mata dan memilih untuk melepas mahasiswa bimbingannya apabila mahasiswa tersebut berubah haluan dari skripsi ke MK. Tau darimana? Dinding berbicara, Kawan. ;)

Well, mungkin karena MK diperuntukkan untuk mereka yang mau-ga-mau harus lulus. Semacam… Short way out. Berbeda dengan skripsi yang mahasiswanya harus banting tulang bikin kisi-kisi, turun lapangan, cari data, nguji validitas, blablabla, MK “hanya” membahas sampai tinjauan teoritis dan berujung pada kesimpulan, tanpa perlu melakukan penelitian. Terkesan gampang, memang. Padahal, MK yang ideal justru sama ribetnya dengan skripsi, kalau ga lebih ribet, dalam hal teori, karena judulnya aja MAKALAH KOMPREHENSIF, jadi harus komprehensif lah isinya. Sayangnya, balik lagi ke alasah MK dijadikan shortcut, karya ilmiah yang HARUSNYA komprehensif ini malah dibuat yaudahlah-ya-yang-penting-lulus.
Beres Yudisium @ TerBuk

Yaudahlah ya, Mi… Sendirinya juga gitu! *self-slap*

Jujur, awalnya aku cukup sedih dan kesal sama diriku sendiri karena bisa begitu malas sama skripsi sampai harus jadi bagian dari mereka yang dikasih kemudahan seperti ini, karena aku inginnya sih punya legacy buat para junior. Walaupun setelah kupikir lagi, tanpa berbentuk skripsipun sebenarnya bisa kok bermanfaat untuk yang lain. Apalagi di BK masih langka yang bahas internet etiquette (netiquette).

Anywayssss… Terlepas dari lunturnya idealisme (walaupun tetap saja ngerjainnya idealis), aku merasa beruntung diberi kesempatan terakhir oleh jurusan untuk menuntaskan pekerjaanku. Ga hanya aku sebenarnya, tapi seluruh mahasiswa angkatan 2008, dan 2007 yang aku baru tahu saat itu. Kind of win-win solution gitu sih, akreditasi jurusan ga makin parah (karena ga ada yang perlu dikasih surat pernah kuliah) dan para mahasiswa yang “bebal” ini bisa mendapat gelar sarjana pendidikan. Sekesal dan se-ilfeel apapun aku dengan jurusanku ini, aku bersyukur.

Aku bersyukur (pernah) menjadi mahasiswa BK selama 7 tahun.


Dan aku beruntung diberi kesempatan lulus di tahun ke 7.

On behalf of BK 2007-2008 graduates, I'd like to say...

We're the #Lucky7.
We're The Lucky 7

The grateful graduate,
Medianissa Helvianti Utami, S.Pd 
Wisudawati #329 @ Hall D JIExpo, 3 September 2015

2 comments:

  1. Nice story..
    Somehow, it is a bit similar to mine.. He..he..27x

    ReplyDelete

Share what you think and correct if I'm wrong, please. :)