Friday, August 02, 2013

Adrenaline Limit

I'm such an adrenaline junkie.
But, I will never agree to risk my life and put it in danger by spend the rest of my life with someone who can not control his
 emotion!

@MediaTami

Thursday, August 01, 2013

Supportive Spouse

"Bu, teteh pengen nikah muda deh..."
"Kamu sekarang umurnya berapa?"
"23..."
"Itu mah udah tua! Ga bisa nikah muda atuh..."
Beberapa bulan lalu, dialog itu terjadi di dapur antara aku dan Ibu. Obrolan santai tapi serius yang diselingi canda, walau kadang menimbulkan luka karena faktanya terlalu nyata. Tapi bukan nikah muda yang akan aku bahas saat ini, melainkan sosok di sebelah kananku ketika di pelaminan nanti.
Hingga detik ini, aku masih belum tau siapa yang akan menjabat tangan wali nikahku ketika ijab qabul. Aku masih mempertanyakan siapa dia?
Laki-laki yang Bapak ikhlaskan untuk menjadi penggantinya dalam menjagaku ketika aku "pergi" dari rumah...
Laki-laki yang akan menoleh ketika dipanggil "Ayah" oleh anak-anak kami...
Laki-laki yang senyumnya akan mengawali pagiku dan mengakhiri malamku...
Laki-laki yang membuatku ga ragu untuk menitikan air mata karenanya...
Laki-laki yang akan menjadi pendamping di sisa usiaku...
Mendapatkan orang yang bisa mendampingi aku, mungkin termasuk hal yang mudah. Apalagi kalau aku hanya menunjukkan sebagian dari diriku yang sesuai dengan keinginan mereka. Tapi, menurutku bukan itu esensi dari suatu hubungan, baik romantic relationship atau platonic relationship. Untuk apa didampingi orang dengan mengorbankan sisi lain dari diri kita? Itu hanya akan menjadi bom waktu yang ketika meledak akan menghancurkan hubungan yang telah terbina.
Teman dan sahabat adalah dua istilah yang berbeda, meski kadang ada yang menganggapnya sama. Hanya karena seseorang selalu bergaul denganku, berbagi cerita, tawa, dan rahasia, belum tentu layak dikatakan sahabat. Sahabat lebih dari itu.
Sahabat adalah