Sunday, December 30, 2012

Enlightment

Hari ke-89

Selamat malam.
Iya, di tempatku mengetik post ini memang sudah malam. Dini hari, tepatnya. Waktu di laptop seorang teman dekatku ini menunjukkan pukul 1 lewat 46 menit. Bukannya aku terbangun setelah sempat menikmati tidur, tapi karena aku memang belum tidur lagi sejak alarmku berbunyi pukul 8 pagi tadi... err... kemarin.
Banyak hal yang terjadi beberapa minggu terakhir di tahun Naga Air ini. Banyak juga hal yang belum terjadi dan tidak terjadi, misalnya kiamat dan seminar proposal skripsiku. Tapi aku tidak akan membahas hal itu. Not in the mood. Saat ini aku akan share tentang apa yang terpikir olehku setelah ngobrol santai dengan beberapa orang terdekatku. Kalau kamu pernah membaca postku sebelum-sebelum ini, kamu pasti bisa memprediksi apa yang akan aku ceritakan. ;)
Tepat hari ini, Minggu, 30 Desember 2012, aku memasuki hari ke-89 sebagai perempuan single. Oke, kalau istilah itu terlalu bagus, aku ganti dengan 'jomblo'. Setelah menyandang status baru ini bukan berarti aku ga dekat dengan laki-laki lain. Sempat dekat dengan beberapa orang, tapi karena aku ga mau punya hubungan sampai akhir tahun ini, jadi aku cut off. Apalagi salah satu orang sempat dekat itu melabeli aku sebagai PHP a.k.a pemberi harapan palsu.
Bagaimana hubunganku dengan mantan terakhirku? Hingga Jumat siang masih sangat baik. Kami masih saling menghubungi via twitter, BBM, dan/atau SMS. Tapi sekali lagi aku tegaskan, hingga Jumat siang. Dari rentang waktu antara Jumat siang-Minggu dini hari ini banyak hal yang muncul di pikiranku. Yup, betul... Aku sudah mulai bisa berpikir kembali.
Ini semua berawal dari komentar sahabatku:
Lo terlalu manjain dia. Dia jadi ga mandiri.
Aku pun langsung merefleksikannya. Apa yang dia ucapkan benar adanya. Aku terlalu memanjakan dia...dan diriku, sehingga kami berada dalam kondisi yang anak-anak gaul Twitter sebut "Gagal Move On". Kami belum berani keluar dari zona nyaman kami. Kami masih saling mencari. Kami masih ingin berada di sisi satu sama lain, tapi tidak untuk dalam hubungan. Istilah apalagi yang layak untuk kondisi kami?