Tuesday, September 06, 2011

LDR: Theory vs Reality

Beda dengan teman aku, Farah, yang sangat bahagia karena salah satu 'cita-cita' hubungannya jadi nyata, aku sangat tidak mengharapkan mengalami hal ini. Yes, Long Distance Relationship a.k.a LDR a.k.a Long Distance Love a.k.a LDL.

I don't believe it works, at least for me.
And I have no idea how it works.

Teori (well, sebenaranya alasan sih...) aku adalah:

  1. Tingkat kegagalan hubungan dengan komunikasi tatap muka masih cukup tinggi, gimana kalau ga tatap muka? Ga ketauan nonverbalnya. Akan banyak kebohongan yang tidak terdeteksi.
  2. Sekuat apapun landasan suatu hubungan (baca: kepercayaan), tetap saja yang menjalani hubungan itu adalah dua manusia, makhluk yang ga luput dari khilaf. Makhluk yang selalu memiliki nafsu. Kebayang kan lagi jauh-jauhnya sama pasangan, kamu percaya dia di sana ga 'nakal', ternyata dapat informasi kalau dia punya pasangan short distance. Hii...
  3. Ada orang yang ga biasa kalau ga ada lawan jenis yang dekat, even itu cuma sekedar teman SMSan, BBM-an, IM-ing, telepon, atau ngobrol di kampus. Aku salah satunya. Kalau jauh gitu, meskipun komunikasi sama pasangan lancar, tetap aja ga ada satu hal yang didapat: physical touch. Bukan berarti sentuhan atau kontak fisik ciuman or something, tapi sentuhan simple dan santai, seperti tepukan pelan di pundak kalau bertegur sapa, rangkulan antar teman, dll.
  4. Fungsi pasangan ga berlaku kalau jarak jauh!


Empat alasan itu aja udah cukup bikin aku 'frigid' dengan istilah LDR. Hii... Amit-amit deh! "Mendingan single dibanding ada pasangan tapi ga kerasa," pikirku dulu... Sebelum aku menjalani LDR dengan orang yang sangat aku harapkan untuk menjadi pasangan terakhirku. :)

Awal kami jadi couple, aku tahu dia cepat atau lambat akan membuatku merasakan hal yang tidak aku sukai itu. Tapi aku pikir 'jalanin aja dulu...'. Setelah beberapa bulan menjalani hubungan kami, datanglah 'kesempatan' LDR untuk 'menemaniku'. Dia harus mudik di pertengahan puasa (sampai detik ini belum pulang!).

Apa yang aku rasakan?

Awalnya aku khawatir akan 'galau' selama sebulan. Ternyata, sedihnya hanya ketika mengantar kepergian dia! Selanjutnya? Biasa aja. Mungkin karena aku tahu dia di sana ada misi keluarga, komunikasi pun cukup lancar, dan (fortunately!) aku ada kesibukan lain, jadi ga terlalu fokus ke LDR ini. Ketakutan dia di sana bandel pasti ada. Aku pikir itu sangat wajar! Cemburu? Pasti. Tergoda untuk cari pelipur lara di sini? Yup. Tapi aku ingat kalimat yang pernah dia kasih ke aku:

"Aku adalah cermin kamu, dan kamu adalah cermin aku."

Kalimat yang sederhana, namun penuh makna. Kalimat itu selalu aku pegang sebagai salah satu 'pedoman' dalam hubungan kami. Sebisa mungkin aku ga melakukan hal-hal yang aku tidak ingin dia lakukan, dan sebaliknya.

Sepertinya hampir tiap saat hari ada SMS 'aku kangen kamu', 'aku sayang kamu', khusus dari aku ada tambahan 'kapan pulang?'. Mungkin sedikit cheessy, tapi cukup melegakan ketika pasangan kamu merasakan hal yang sama. LDR ini membuat aku merasa hebat, karena ternyata aku kuat menjalaninya. Kangen-nya emang cukup bikin gila sih... Apalagi ada perbedaan waktu antara tempatku dan tempatnya, walaupun ga jauh selisihnya. Tapi kami mencoba memaksimalkan dan mengoptimalkan waktu yang ada sebaik-baiknya. Seru kan punya pasangan cooperative? Sebulan ga selama yang aku pikirkan, walaupun aku sangat tidak mau untuk menambah waktu LDR kami, even itu hanya sehari!

The point is... LDR ga seburuk yang aku pikirkan. Banyak tantangan yang bisa kamu lewati akan membuat kamu jadi lebih dewasa dalam berhubungan. 'Is he/she the right one for me?' pun bisa dijawab dengan tantangan yang disebut LDR ini.

So, tertarik untuk mencobanya? :)


Correct me if I'm wrong,
Mediatami

p.s.: Teori ini hanya berlaku untuk unmarried couple karena aku asumsikan pasangan yang sudah menikah terikat oleh tali yang tidak terlihat dan dijaga oleh Pemberi Cinta.
p.p.s.: I'm not only missing you, dear. I need you. :*