Tuesday, May 25, 2010

Sebuah Tulisan Untuk Tuanku

Tuan, saya hanya tidak mengerti bagaimana seharusnya memperlakukan Anda saat ini. Karena setiap langkah yang saya ambil tentang Anda... Sekecil apapun itu... Ibarat 2 mata pedang. Akan selalu ada yang tersakiti. Entah saya, Anda, dia, ataukah mereka. Saya tidak mampu membahagiakan semua pihak. Saya ingin Anda percaya bahwa saya pun terkadang merasa tersiksa dengan keadaan ini. Namun saya dan Anda harus bisa melewatinya agar saya dan Anda benar-benar memahami apa dan siapa yang saya dan Anda butuhkan. Saya percaya Anda adalah yang terbaik untuk saat ini dan masih Anda orang yang saya butuhkan untuk saat ini.

Tuan, sadarkah Anda, luka yang Anda rasakan terasa beratus kali lebih menyakitkan bagi saya? Kebahagiaan yang Anda rasakan terasa beribu kali lebih indah bagi saya? Kenyamanan yang Anda rasakan terasa berjuta kali lebih menenteramkan bagi saya? Namun Anda bisa beratus kali mencurahkan rasa sakit Anda, mampu beribu kali mengekspresikan rasa bahagia Anda, dan dapat berjuta kali membagi kenyamanan Anda dibanding saya!

Saturday, May 22, 2010

Hari Terakhir di (Usia) 19 Tahun

Yup! It's my last day as a 19-years-old girl. Ga nyangka dalam beberapa jam ke depan gue harus merelakan angka 1 pergi dari awalan umur gue. :'( Beberapa teman gue yang telah lebih dulu mencapai usia 20 bilang being 20 ga ada bedanya dengan umur sebelum-sebelumnya. I used to think like them too. Tapi entah kenapa menjelang pergantian kepala dari kepala 1 ke 2, gue ngerasa sedikit... Deg-degan.

Serenity Prayer

God,
Grant me serenity to accept the things I can not change,
Courage to change the things I can,
And the wisdom to know the difference.

Regards,
Media

When Henry Met Iggle


Have I told you that Corel has pets, 2 hamsters named Henry and Iggle?

Yup, on his 5th birthday (April 11th, 2010), his aunt gave him 2 hamsters (with their cage and toy). At first I didn't care whether they're female or male. But when my little sister updated her facebook status (she likes updating her status), suddenly I stroked by her status. It said that Iggle was given birth.

OMAGAWD!

I just knew Henry is male and Iggle is female. No wonder Iggle was so sensitive and 'powerfull' lately. :p After 8 little babies born, Henry and Iggle was separated (temporary, of course). In case Henry's hungry then eat their newborn babies. Hiii... :'( The newborn babies are so red, tiny miny, and... fragile. Me and Teh Ana (Corel's mom a.k.a my cousin) try to give names for them:

  1. Makka
  2. Pakka
  3. Upsy
  4. Daisy
  5. Tombliboos
  6. Heggle
  7. Leon Strife
  8. Cecilia Stygwarg
1-5: Based from characters in 'In The Night Garden' (CBeeBies, channel 41).
6: HEnry-iGGLE
7-8: From Mas Adit (he insists to give those names!)

So, now I know my job as 'hamsters-sitter' is harder than before. But still... I love them. :)

ILYSM. <3

Regards,
Media

Wednesday, May 19, 2010

Sometimes I Just Need Me

Gue menyukai kehidupan gue di Jakarta, baik di kampus maupun di kost. Gue senang dikelilingi orang yg baik sm gue, yg ckp bs bikin gue ketawa di tengah suntuk karena tugas-tugas yg entah kenapa sabar bgt ngantri untuk dikerjakan. Tp ada kalanya gue ingin sendiri tanpa mereka. Bukan karena ada yg ingin gue hindari, tp karena gue membutuhkan GUE. Gue membutuhkan kehidupan gue di Bogor. I just don't wanna miss a thing here. I'm trying to fix the pieces of my life. So I really appreciate them who try to understand what I'm feeling and doing. Thank you! :)

Regards,
Media

Guru Pun Bisa Demam Panggung

Judul Buku: Anda Harus Pergi ke Sekolah… Anda Guru!
Judul Asli: You Have to Go to School… You’re The Teacher!
Penulis: Renee Rosenblum-Lowden & Felicia Lowden Kimmel
Penerjemah: Eli Novitasari
Terbit: Jakarta, PT INDEKS, 2008, 243 halaman
ISBN: 979-683-927
Jenis Buku: Nonfiksi

Buku yang ditulis oleh dua guru perempuan asal New York, Amerika Serikat, ini membahas mengenai masalah yang sering dialami guru, khususnya guru baru atau guru praktik: Manajemen Kelas. Menurut Renee Rosenblum-Lowden dan anaknya, Felicia Lowden Kimmel, guru baru atau guru praktik, bahkan guru lama, mengalami demam panggung ketika pertama kali mengajar. Hal ini diperparah dengan kekurangmampuan mereka dalam menangani manajemen di kelas. Hal yang kadang luput dari perhatian seperti ini justru yang menentukan kualitas siswa dan pendidikan di negara itu. Kemampuan manajemen kelas bagi guru merupakan hal yang sangat penting untuk dimiliki dan harusnya selalu ditingkatkan, karena inilah yang menenentukan pembentukan siswa. Sayangnya, guru (khususnya guru lama) masih menjalankan manajemen kelas dengan kaku yang sebenarnya membuat dirinya sendiri tidak nyaman dan menjadi kasus-kasus kecil yang dibahas dalam buku ini. Penulis menjelaskan kasus atau masalah yang biasa dialami oleh para guru mulai dari persiapan pengajaran hingga pulang sekolah. Renee Rosenblum-Lowden, yang telah menjadi guru selama lebih dari 25 tahun, tidak lupa mencantumkan tips untuk mengatasi masalah-masalah yang dialami oleh guru. Menurutnya, guru sering menganggap remeh hal kecil, padahal bila dilakukan terus, akan berdampak buruk. Misalnya terlalu sering mengizinkan siswa pergi ke kamar mandi. Hal ini dianggap membuat siswa menganggap enteng guru dan menurunkan tingkat respek pada guru tersebut.
Buku ini sangat cocok dibaca untuk guru, baik guru baru maupun guru lama, bahkan calon guru seperti saya. Banyak pengalaman yang dapat kita pelajari dari buku ini. Adanya tips dari penulis membuat buku ini layak menjadi pedoman untuk mengajar di kelas dan menghadapi siswa. Bahasa yang digunakan cukup ringan sehingga buku ini dapat kita baca kapan saja tanpa perlu merasa khawatir akan membuat kepala menjadi pusing. Buku ini menyajikan panduan sempurna berupa ide-ide inovatif serta metode-metode yang telah diuji. Tampilan buku ini cukup menarik dengan cover kegiatan belajar mengajar di kelas berwarna biru dan kuning. Saya yakin jika guru membaca buku ini dan mau merubah gaya manajemen kelasnya, kualitas guru di Indonesia akan meningkat yang membuat peningkatan terhadap kualitas siswa dan pendidikan di Indonesia.

Regards,
Media

Monday, May 17, 2010

12 Steps

Step 1 - We admitted we were powerless over alcohol—that our lives had become unmanageable.
Step 2 - Came to believe that a Power greater than ourselves could restore us to sanity.
Step 3 - Made a decision to turn our will and our lives over to the care of God as we understood Him.
Step 4 - Made a searching and fearless moral inventory of ourselves.
Step 5 - Admitted to God, to ourselves, and to another human being the exact nature of our wrongs.
Step 6 - Were entirely ready to have God remove all these defects of character.
Step 7 - Humbly asked Him to remove our shortcomings.
Step 8 - Made a list of all persons we had harmed, and became willing to make amends to them all.
Step 9 - Made direct amends to such people wherever possible, except when to do so would injured them or others.
Step 10 - Continued to take personal inventory and when we were wrong promptly admitted it.
Step 11 - Sought through prayer and meditation to improve our conscious contact with God as we understood Him, praying only for knowledge of His will for us and the power to carry that out.
Step 12 - Having had a spiritual awakening as the result of these steps, we tried to carry this message to alcoholics, and to practice these principles in all our affairs

[Source: http://www.12step.org/]

Karena kemarin gue ikut acara MRAN, akhirnya 'memori' tentang drugs, addiction, YAKITA, junkie, MB, dan yang berhubungan tentang hal-hal itu terbuka kembali. Salah satunya adalah '12 Steps' a.k.a '12 langkah'. Banyak yang berpikir kalau 12 steps hanya digunakan untuk drugs addicts. Tapi setelah gue baca, ini universal kok. Ga hanya untuk drugs addicts, tapi bisa buat semua orang yang addicted to something. Rencananya ingin gue bahas per langkah. Tapi waktu kali ini belum memungkinkan. Sepertinya akan gue post nanti. Semoga berguna buat kalian. :)


Regards,
Media

Saturday, May 08, 2010

Friends in need...

Hari ini gue sadar bahwa teman yang ga gue bayangkan akan ada ketika gue butuhkan lebih bisa membuat gue tersenyum dan merasa hidup dibandingkan teman yang menjanjikan keberadaannya ketika gue butuhkan, tapi pada kenyataannya dia ga ada. Makasih untuk teman-teman yang mencerahkan hari ini. :)

Regards,
-M

Sunday, May 02, 2010

Second Chance

Beberapa orang mungkin tau gue punya 'prinsip' Second Chance:

Ga mau pacaran sama mantan yang gue putusin, kecuali kalo gue udah punya mantan baru.

Bukan tanpa alasan gue 'menanamkan' hal itu dalam hidup gue. Ketika gue memutuskan suatu hubungan dengan seseorang, biasanya karena suatu hal yang disebut 'masalah' dan cukup mengganggu stabilitas hubungan kami. Ga lucu kalau gue memutuskan hubungan, tapi gue langsung bilang 'IYA!' ketika diajak untuk merajut hubungan yang sama dalam waktu dekat. Untuk apa putus kalau gitu?

Hal ini membuat gue merasa harus cari 'yang lain' sebagai 'alat tes' apakah gue benar-benar perlu putus dari sang mantan, ataukah cuma kekhawatiran gue terhadap masalah yang kami hadapi terlalu besar. Biasanya, langkah gue untuk putus tepat. Hingga gue putus dengan seseorang yang membuat gue nyesel kenapa punya 'prinsip' konyol seperti ini. Walaupun dengan kebodohan gue karena 'merelakan' kesempatan kedua itu pergi, gue jadi tahu ternyata dulu pun gue ga diizinkan untuk masuk ke dunianya. Padahal gue orang yang bisa dibilang dekat. Gimana sekarang, ketika gue bukan siapa-siapa?


Really wish that I could turn back time. But like him, I have to keep moving on.

Regards,
-M