Thursday, November 26, 2009

SMS dari Aktivis Pendidikan

Ada dua orang teman yang kirim SMS dalam waktu yang hanya selisih beberapa menit. Isi SMSnya:

Tpat d hari guru ni, 25nov 09, prjuangan aktivis” pendidikn membuahkn hsl yg menggembirakn. MA memutuskn bhw UN tdk akn mnentukn klu2san siswa. Dg bgitu 1 mslh krusial pend tlah trselesaikan n smoga mengantarkn Ind k arah kmajuan.

Jayalah Pendidikan Indonesia!!

Sbrkn sms ni k aktivis” n slrh rkan” mhasiswa.

Itu SMS asli tanpa aku gubah. Tapi kalau masih agak bingung bacanya, ini ‘translate’annya (yang aku tangkap):

Tepat di hari guru ini, 25 November 2009, perjuangan aktivis-aktivis pendidikan membuahkan hasil yang menggembirakan. MA memutuskan bahwa UN tidak akan menentukan kelulusan siswa. Dengan begitu 1 masalah krusial pendidikan telah terselesaikan dan semoga mengantarkan Indonesia ke arah kemajuan.

Jayalah Pendidikan Indonesia!!

Sebarkan SMS ini ke aktivis-aktivis dan seluruh rekan-rekan mahasiswa.

Kalau ngeliat isi SMS itu, emang ga ada yang aneh sih. Bahasa mudah dimengerti dan inti  SMSnya dapat tersampaikan. Tapi… Ada satu hal dari SMS itu yang ngebuat aku melakukan sesuatu yang sangat jarang terjadi: BERPIKIR. :p

Perhatikan kalimat pertama sampai ketiga:

…, perjuangan aktivis-aktivis pendidikan membuahkan hasil yang menggembirakan. MA memutuskan bahwa UN tidak akan menentukan kelulusan siswa. Dengan begitu 1 masalah krusial pendidikan telah terselesaikan…

WOW! Jadi bingung harus bangga atau malu. Bangga karena perjuangan para aktivis (masih aku pertanyakan sebenarnya ‘aktivis’ itu apa atau siapa sih?) membuahkan hasil, tapi malu karena sebenarnya belum ada solusi konkrit dalam mengatasi masalah pendidikan di Indonesia. Really don’t mean to hurt your feeling, wahai para aktivis pendidikan! :)

Aku juga pernah muda (baca: remaja a.k.a jadi siswa SMP dan SMA). Ketika dihadapkan dengan UN (Ujian Nasional), aku juga sangat berharap kalo UN ga jadi standar kelulusan buatku, bahkan berharap UN DIHAPUSKAN! Harapan (atau mimpi?) standard murid yang kecerdasan akademiknya biasa-biasa aja kan? Hehehe. Dulu mikirnya gini: ‘Cape-cape sekolah 3 tahun, masa hasilnya ditentuin dalam waktu 3 hari? It’s not fair at all!’. Kalau sekarang, aku ubah pemikiranku jadi gini: ‘Kalau emang belajar 3 tahun, kenapa takut sama 3 hari?’.

Banyak yang sependapat, tapi selalu ada alasan yang berusaha untuk mematahkanya, seperti beberapa ‘tapi’ di bawah ini:

  1. Tapi kalau 3 tahunnya ga maksimal, gimana?
  2. Tapi pas kuliah belum tentu juga ngambil jurusan yang sama kaya SMA. Jadi ngapain juga mata pelajaran jurusan dimasukin ke UN?
  3. Tapi tetap dag dig dug.
  4. Tapi nilai UN ga dipergunakan di perguruan tinggi.
  5. Tapi kemampuan antara siswa di desa dan di kota itu berbeda!

Hahaha. Alasan-alasan yang sebenarnya ga masuk di akal, bukan? Saatnya aku kasih pembelaan diri:

  1. Kalau 3 tahunnya ga maksimal, itulah gunanya bimbingan belajar, pengayaan, les, dan kawan-kawan yang inti fungsinya sama: review materi.
  2. Kalau mata pelajaran jurusan ga dimasukin ke UN, ngapain juga ada penjurusan di SMA? Bukankah yang ngebedain antara tingkat SMA dan tingkat-tingkat di bawahnya ada di penjurusan? Siswa SMA dianggap udah bisa memahami minat dirinya dalam karir. Kalau belum bisa, itulah gunanya guru pembimbing. :) Sayangnya, masih cukup banyak guru pembimbing yang ga capable dalam membimbing. Jadi ga heran kalau masih banyak siswa yang lost direction dan akhirnya jadi ‘penghianat’ jurusan di SMA atau SMKnya. Hehehe.
  3. Sepertinya wajar kalau menjelang ujian, selama dan sehebat apapun persiapan kita, ada perasaan deg-degan. Normal, sob!
  4. Namanya juga UN sebagai standar kelulusan, bukan standar masuk perguruan tinggi. Nilai UN emang ga ngaruh untuk masuk perguruan tinggi. Tapi bukankah ada istilah efek psikologis? Kalau kita bisa lulus UN dengan hasil yang memuaskan, kita jadi sedikit lebih percaya diri ketika tes masuk perguruan tinggi, bukan? Lagian kalau nilai UN digunakan untuk masuk perguruan tinggi, makin banyak aja pengangguran muda di Indonesia.
  5. Ini nih inti masalahnya. Banyak yang pengen UN ga dijadikan standar kelulusan karena ga sedikit siswa yang ga lulus. Sayangnya, dari sekian banyak siswa yang ga lulus, rata-rata berada di daerah yang cukup terpencil, at least kota kecil, bukan kota besar dan metropolitan seperti Jakarta. Kemampuan setiap orang memang berbeda. Jangankan yang beda ‘dunia’ seperti kota dan desa. Yang satu sekolah, bahkan satu kelas, saja kemampuannya ga selalu. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang mudah mencerna ilmu, ada yang sedikit sulit menerima pelajaran. Bisa jadi faktor bawaan sih sebenarnya… Tapi kalo kita perhatikan, kita pasti sadar yang menjadi perbedaan utama dari mereka adalah: kualitas pendidikan, khususnya tenaga pendidik a.k.a guru.

Bangsa Indonesia sekarang punya kecenderungan malas untuk menggali sesuatu secara mendalam dan ga ngeliat hal secara holistik. Kalau diliat dari alasan-alasan di atas, sebenarnya yang jadi masalah utama dari pendidikan di Indonesia adalah kurangnya tenaga pendidik yang berkualitas. Berhubung aku calon guru pembimbing, jadi aku mau nunjukkin dari sisi guru pembimbing. Coba deh bayangin kalau guru pembimbing benar-benar bisa membimbing para siswanya dalam mengembangakan potensi diri yang dimiliki dan membantunya menemukan karir yang sesuai. Ketika seseorang memiliki tujuan, mereka akan fokus dan berusaha untuk mencapai tujuan itu dengan semangat. Kalau mereka udah semangat, tinggal diarahin aja untuk belajar mata pelajaran yang dijadiin syarat lulus. Selain itu, guru pembimbing juga harus turun tangan kalau siswanya ada masalah. Hehehe. Emang ga mudah sih… Tapi bukan berarti ga bisa, kan? :)

UN dijadiin standar kelulusan ada bagusnya lowh! Siswa jadi rajin belajar! Iya kan? :p Mereka punya keinginan untuk lulus, even the laziest student! Mereka akan belajar demi dapat nilai yang melebihi standar kelulusan, kalaupun pas, yang penting lulus. Kalau UN ga dijadiin standar kelulusan, bisa jadi siswa akan santai. There’s nothing for them to fight for. Alhasil, nilai terakhir mereka jadi pas-pasan. Toh ga ada standar yang harus mereka lewati.

So, apa yang diberitakan SMS tersebut ga menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. Malah bisa jadi memperparah kondisi pendidikan. UN bukan masalah. Yang jadi masalah adalah: Bagaimana agar para siswa siap secara intelektual, moral, dan fisik dalam menghadapi UN?

Aku tunggu saja berita gembira selanjutnya dari para aktivis pendidikan. :)

Correct if I’m wrong please.

~M